Dramatari Calonarang

Dramatari Calonarang


 


Sinopsis
       
      Ada sebuah kerajaan bernama Kediri (dulu Daha) yang diperintah oleh Prabu Erlangga. Di bawah pemerintahan Erlangga rakyat hidup makmur sejahtera sampai ke desa desa. Di desa Girah ada seorang janda bernama Calon Arang. Dia memiliki seorang anak perempuan cantik bernama Ratna Manggali. Calon Arang adalah seorang dukun yang terkenal sakti tapi jahat sehingga dia ditakuti oleh masyarakat. Karena itu sampai usia patut kawin Ratna Manggali belum dilamar orang. Akibatnya Calon Arang menjadi marah kepada masyarakat dan bertekad membalas dendam. Suatu hari dia memuja Batari Durga untuk meminta agar dia bisa menyebarkan penyakit kepada masyarakat untuk membunuh sebanyak banyaknya orang. Batari Durga setuju asal jangan sampai mengenai ibu kota. Tenung disebarkan menjadi wabah penyakit yang menelan banyak korban. 
Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan

Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan

Sehubungan dengan jatuhnya Hari Raya Galungan pada hari ini di Bali, maka saya akan membahas sedikit sejarah mengenai Hari Raya Galungan. Semoga dengan ini mereka yang merayakan semakin mendalami makna yang sebenarnya dari Hari Raya Galungan.
         Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan Dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.
          Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali.
Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi.
          Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti. Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:

Upacara Pengabenan (Pembakaran Jenasah di Bali)

Upacara Pengabenan (Pembakaran Jenasah di Bali)

          Ngaben adalah upacara pembakaran mayat yang dilakukan di Bali, khususnya oleh yang beragama Hindu, dimana Hindu adalah agama mayoritas di Pulau Seribu Pura ini. Di dalam Panca Yadnya, upacara ini termasuk dalam Pitra Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan untuk roh lelulur. Makna upacara Ngaben pada intinya adalah untuk mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya. Seorang Pedanda mengatakan manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah meninggal Bayu, Sabda, Idep itu dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa. Upacara Ngaben biasanya dilaksanakan oleh keluarga sanak saudara dari orang yang meninggal, sebagai wujud rasa hormat seorang anak terhadap orang tuanya. Dalam sekali upacara ini biasanya menghabiskan dana 15 juta s/d 20 juta rupiah. Upacara ini biasanya dilakukan dengan semarak, tidak ada isak tangis, karena di Bali ada suatu keyakinan bahwa kita tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal karena itu dapat menghambat perjalanan sang arwah menuju tempatnya.
Hari pelaksanaan Ngaben ditentukan dengan mencari hari baik yang biasanya ditentukan oleh Pedanda. Beberapa hari sebelum upacara Ngaben dilaksanakan keluarga dibantu oleh masyarakat akan membuat “Bade dan Lembu” yang sangat megah terbuat dari kayu, kertas warna-warni dan bahan lainnya. “Bade dan Lembu” ini merupakan tempat mayat yang akan dilaksanakan Ngaben.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Seputar Budaya Bali - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger